Friday, December 27, 2013

Perempuan Pencemburu Meniti Langit

Seorang perempuan pencemburu meniti tangga menuju langit
Kata kekasihnya, langit bertuliskan nama jodoh setiap orang layaknya daftar hadir

Awan-awan berhamburan laksana tepung
Saat ia acak-acak 'tuk cari nama yang berserak

Bah! Kau pikir ia mencari nama lelaki untuk jodohnya?
Tidak,  ia tengah mencari nama jodoh kekasihnya


Wulan Dewatra/27-12-2013

Wednesday, December 18, 2013

Kumpul Penulis Pembaca 2013

Halo pecinta kata, tanggal 22 Desember 2013 ini saya akan hadir di acara Kumpul Penulis Pembaca  2013 di Kemang.  Bagi yang mau ngobrol atau ikut book signing bisa  dateng ke acara ini. Janga lupa bawa novel  Memento, Harmoni, atau Hujan dan Teduh kalo mau ikut penandatanganan buku. Ini info lebih lengkapnya.



Sampai bertemu!

Wulan Dewatra :)

Sunday, November 24, 2013

Resensi Novel Theatre Karya Somerset Maugham


oleh Wulan Dewatra

Judul : Theatre
Penulis : Somerset Maugham
Tebal : 292 hal.
Tahun terbit : 1937



"Sham is your truth. Just as margarine is butter to people who don't know what butter is." (p.261)

Hal pertama yang saya lihat dari novel ini adalah nama penulisnya, Somerset Maugham. Sering saya mendengar namanya, tetapi baru kali ini saya mendapat kesempatan untuk membaca salah satu karyanya. Inilah kesempatan pertama saya untuk membaca karyanya, Theatre.

Secara umum, buku ini mengisahkan kehidupan Julia Lambert, seorang aktris teater Inggris terkenal berusia 46 tahun. Beragam konflik kecil dikisahkan dalam cerita ini, dimulai dari kisah masa muda dengan suaminya (Michael), kisah cintanya dengan Tom yang berusia jauh lebih muda, dan konflik-konflik kecil lain. Pada akhir bab, kita akan menemukan bahwa konflik-konflik kecil tersebut mengungkap sebuah konflik utama dari novel ini.

Pada bab-bab awal, saat penulis menceritakan masa muda Julia dengan Michael, saya merasa sangat bosan. Kisah awal Julia dengan Michael ini terlalu panjang. Konfliknya terasa sangat datar, begitu pula dengan cara berceritanya. Saya hampir menyerah di sini. Hanya segini? Konfliknya apa? Namun, setelah saya membaca setengah dari novel ini, saat Julia mulai berhubungan dengan Tom (seorang akuntan yang berusia jauh lebih muda darinya), saya mulai tertarik. Konflik-konflik mulai muncul dan berhasil memainkan perasaan saya. Saya pikir kisah Julia dengan Tom merupakan fokus utama dari novel ini. Mungkin novel ini mengangkat tema oedipus complex. Saya salah!

Pada bagian-bagian akhir dari bab, baru saya dapat menyimpulkan konflik utama dalam novel ini. Dengan mengumpulkan seluruh konflik-konflik kecil dan bagaimana Julia menghadapinya, dapat disimpulkan bahwa konflik utama dari novel ini berada pada diri Julia sendiri. Julia yang seorang aktris teater tidak hanya berakting di atas pentas, tetapi juga dalam keseluruhan hidupannya. Hanya putranya, Roger, yang menyadari ini. Hal ini sesuai dengan kutipan berikut:

When I’ve seen you go into an empty room I’ve sometimes wanted to open the door suddenly, but I’ve been afraid to in case I found nobody there (p.261).

(Saat saya melihat ibu masuk ke sebuah ruang kosong terkadang saya ingin membuka pintu secara tiba-tiba, tetapi saya takut tidak menemukan siapa pun di sana)
Konflik tersebut jarang (tidak pernah) saya temukan dalam novel-novel yang saya baca, apalagi novel ini muncul sekitar tahun 1937an. Di samping itu, walaupun novel ini ditulis jauh setelah zaman Renaissance, dimana dunia teater sedang bangkit dan jargon “dunia adalah panggung sandiwara” begitu populer, Maugham dapat menerapkan tema “dunia adalah panggung sandiwara” dalam novelnya dengan baik. Selain itu, Maugham pun dapat menggambarkan dengan jelas dan rapi bagaimana dunia teater dengan seluk-beluknya, mungkin ini dipengaruhi oleh latar-belakang beliau sebagai dramawan. Sayangnya, karena saya baru membaca satu karya Maugham, saya belum dapat menemukan karakter beliau. Lain kali saya harus membaca karyanya yang lain.
Untuk saya, buku ini layak untuk direkomendasikan. Selain mengusung ide yang berbeda, penulis menyampaikan idenya dengan kreatif dan menggugah emosi pembaca (kecuali di awal-awal XD). Rating untuk buku ini 4 dari 5. 

Friday, November 22, 2013

Peraut Sembilu


Jantung itu masih berdenyut
Tertutup noda membentuk nama
Saat diiris tangan gemetar penuh gores

Semalam ia baru menganyam sembilu
Sembilu-sembilu terpanjang yang pernah diraut
 Kini mereka serupa tikar kaku di ruang tengah

Minyak ‘tlah tiris dari irisan jantung yang mengering
Ketika tangan itu menyeduh rindu yang mengerak di dasar cangkir
“Mari kita bertamasya,” sunggingnya

Matahari tersisa sepotong saat ia sampai di sebuah padang
Dengan mimpi-mimpi berserakan mati di atas rumput hijau

Dikelilingi sekumpulan gagak yang berebut irisan jantung
Ia gelar tikar sembilu dan menyesap rindu

Ia mendengus kecewa

“Haruskah aku keluarkan otakku juga dan mengukusnya?”
Tanyanya pada lelaki yang tengah meraut bambu menjadi sembilu
Sembilu terpanjang yang pernah ada

Sang peraut hanya tersenyum
Kemudian beranjak ‘tuk mencumbu setiap luka

Wulan Dewatra - 19/11/2013

Thursday, November 21, 2013

Resensi Memento

oleh Hazana Itriya


Memento. Setelah Cinta Pergi.
Wulan Dewatra
266 Halaman
Gagas Media
Novel - Fiksi
Rp. 44.000-,





*Sinopsis :
Aku kira bisa dengan mudah melupakanmu
Tapi hidup kini terasa berbeda karena
menjalaninya seorang diri saja.
kau pergi dan bahagiaku tak kembali.

Aku yang sekarang, tak kukenali lagi.

Saat bercermin pagi ini,
aku begitu takut pada bayanganku sendiri.
Pada memori yang berat membebani bahuku.
Pada bibirku yang tak akan pernah tersenyum lagi.

saya membeli novel ini karena saya suka tutur bahasa sang penulis pada novel pertamanya yang berjudul "Hujan dan Teduh". Novelnya berbeda dengan novel-novel remaja kebanyakan, dan mungkin novel ini tidak dikategorikan sebagai novel remaja, karena masalah atau konflik yang terdapat dalam novel ini begitu berat dirasa. Saat pertama saya membaca bagian Prolog saja, saya sudah merasa seperti memasuki lorong gelap tanpa cahaya. Dua novel kak Wulan Dewatra ini membuat saya berpikir di luar kebiasaan saya berpikir, memaksa saya menyetujui sisi gelap tokoh-tokoh fiksi di dalam novel ini. Meski, mungkin saja kak Wulan tidak bermaksud seperti itu. Tapi saya menyukainya.

Jujur saja, awalnya saya tidak tertarik dengan karya selanjutnya dari penulis manapun, karna menurut saya karya ke-2, ke-3 ataupun selanjutnya bisa saja berbeda dengan karakter karya yang pertama dan akhirnya malah membuat saya kecewa membacanya. Namun, karena sampulnya yang biasa dan judulnya yang begitu asing di mata, saya meminta bantuan kepada salah satu penjaga toko buku untuk mencarikan novel yang tidak dapat saya temukan sendiri. 

Memento, apa sebenarnya arti dari kata ini? setelah selesai membacanya saya baru bertanya-tanya tentang Judul novel ini. Setelah saya telusuri di mbah gugel, saya sedikit terpaku membacanya. Memento artinya "barang kenangan yang mengingatkan pada seseorang atau masa lalu". Satu kata yang cukup panjang definisinya. Namun saat pencarian, saya juga menemukan arti lain dari kata "memento" namun ada tambahan kata di belakangnya, yaitu "mori", jadi "memento mori" berarti "Ingatlah bahwa suatu hari kita akan mati". Cukup buat saya tersentak dan berpikir, diam.

Seperti Judul dan sinopsisnya, novel ini mengisahkan tentang seorang wanita yang ditinggal mati kekasihnya menjelang pernikahan mereka. Rasa kecewa pada diri sendiri melingkupi hatinya setelah ia menyadari bahwa ia tidak pernah sekalipun begitu peduli pada sang kekasih sebagaimana sang kekasih memperlakukannya selama ini. Ia kecewa tidak sempat membahagiakan kekasihnya seperti kekasihnya yang selalu memperhatikannya dengan membuatkannya makan siang setiap hari. Dan "memento" dalam novel ini adalah sebuah hp milik kekasihnya juga cincin pernikahan mereka. Hingga kemudian ia harus pindah ke kota lain dan meneruskan usaha ayah angkatnya karena ada hal yang mengancam nyawanya, dan di sanalah ia diberikan kesempatan untuk memperbaiki sikapnya dalam memperlakukan orang yang menyayanginya dengan baik, dengan sepenuh hati. Meski, hal yang lebih menyakitkan akan menghadang niatnya kemudian hari, dan masa lalunya kembali mendatanginya penuh benci.

well...karena kemampuan saya yang masih jauh di bawah standar untuk meresensi sebuah buku, hanya ini yang bisa saya ceritakan kepada pembaca. Meskipun, masih ada konflik-konflik yang lain dalam novel ini yang bisa saja membuat pembaca menitikan air mata, seperti saya yang harus menahan isak saat bagian peristiwa tragis yang harus dialami oleh sang tokoh utama. Jadi sebaiknya pembaca membacanya sendiri, dan temukan sensasi emosi yang mengaburkan akal sehat untuk tidak merasa kesal, marah atau apapun itu dalam novel ini. Selamat membaca :)

*Rating untuk buku ini : 4 dari 5


Sunday, April 28, 2013

Review Harmoni


oleh Cahyaningrum



Harmoni merupakan salah satu novel Gagasduet. Novel ini terdiri dari dua novela; Coelho and Us oleh Ollie dan Sang Angkuli oleh Wulan Dewatra.

Pada cover depan novel ini terdapat sebuah ungkapan "kadang cinta yg tak terucap akan lebih jelas terdengar" yang sepertinya diambil dari kisah Ryan & Lili dalam Coelho and Us. Hanya saja saat membaca endingnya, saya tidak menemukan conclusion dari kisah mereka. Yang saya dapat hanya tahu bahwa mereka sama-sama cinta walau mereka tidak saling mengucapkan, tapi rasanya seperti masih ada yang kurang. Entahlah, ada ending cerita yg memang dibuat menggantung. Mungkin ending cerita oleh Ollie adalah salah satu tipe cerita yg seperti itu ;) 

Honestly, saya lebih menyukai bagian cerita Wulan Dewatra, Sang Angkuli. Sangat khas, gaya bahasanya mengingatkan saya dengan novel sebelumnya, Hujan dan Teduh. Mungkin karena saya tipe pembaca yg melankoli. Cerita ini, tadinya, serasa teka teki, ini mungkin karena saya yg tadinya belum "ngeh" dengan teka-tekinya. Hahaha silly me ;)

Bukannya tak menyukai dan bukannya tak bagus, saya juga suka bagian cerita oleh Ollie, bagus juga. Tapi untuk saya pribadi, saya lebih suka bagian cerita Sang Angkuli, lebih punya greget :D 

Well, itu kembali ke selera masing-masing pembaca juga ya ;)

Resensi Hujan dan Teduh


oleh Tri Ayu Mustikawaty

Mau bahas satu novel kali ini. Aku pertama tertarik dengan novel ini sebenarnya bukan dari perburuan novel seperti yang biasa aku lakukan. Agak unik sih sebenarnya. Dari seorang penyanyi bernama Alyssa Saufika Umari, atau sekarang lebih dikenal dengan nama ‘Ify Blink’ ._. Apa hubunganya penyanyi dengan novel?

Yah sekitar setengah tahun yang lalu, Ify bikin lagu sebagai proyek drama sekolahnya berjudul “Hujan & Teduh” yang terinspirasi dari sebuah novel. Aku sebagai salah satu ‘followers’ Ify agak sedikit penasaran juga, kok Ify dan teman-temannya akhirnya bisa memutuskan novel ini yang digunakan sebagai project drama kelasnya. Terus lagu yang Ify ciptakan pun begitu bagus dan punya lirik yang begitu dalam. Kebetulan aku udah sempet colong denger lagunya pas Papanya Ify ke Banjarmasin. Kebetulan kita emang kenal dan akhirnya sempet ketemu, terus numpang nyolong denger deh hehehe….

Alhasil, bermodal rasa penasaran, cobalah searching-searching sama om gugel tentang novel ini, dan ketemulah fakta bahwa novel Hujan & Teduh yang ditulis oleh Wulan Dewatra ini adalah pemenang pertama lomba menulis fiksi “100% Roman Asli Indonesia” dari Gagas Media. Dalam hati langsung nyeletuk “oh pantes. Kalau pemenang, pasti ada hal yang menarik nih”. Kemudian makin penasaran lah saya dan memulai baca novelnya. Ternyata cerita yang disajikan benar-benar ‘berani beda’. Mungkin ini salah satu point lebih yang membuat novel ini terlihat menarik.

 

Cover cantik dari Novel Hujan & Teduh

Judul: Hujan dan Teduh
Penulis : Wulan Dewatra
Penerbit : Gagas Media
Tahun Terbit : 2011

Novel Hujan & Teduh menceritakan kisah percintaan Bintang, tokoh utama cewek dalam novel ini, yang tak biasa. Kata 'berani beda' yang aku sebut di atas bener-bener gak mengada-ada. Novel ini menceritakan 2 kisah cinta Bintang, di masa SMA dan masa kuliah. Cerita pertama adalah cerita saat SMA Bintang terlibat percintaan terlarang dengan seorang gadis bernama Kaila. Kisah kedua adalah cerita cinta Bintang di masa kuliahnya yang juga tak kalah tragis. Saat kuliah Bintang bertemu dengan Noval, sosok pria yang awalnya bisa membuat Bintang menemukan cintanya yang ‘wajar’ tapi ternyata akhirnya membawanya kepada cinta yang terlarang dalam versi lain. Sikap ala ‘Lucifer’ yang sering kali muncul dalam novel ini menimbulkan kesan angker.

Aku dan kamu seperti hujan dan teduh, ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan. Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan.... Seperti itulah cinta kita.

Mungkin begitulah kiasan yang cocok untuk dua kisah cinta Bintang. Cintanya yang tak pernah abadi. Ditakdirkan tuk bersama, tapi tak akan pernah selamanya….

Overall, dua cerita inti di atas dituturkan berdampingan dengan alur yang maju mundur. Mungkin kalau kita baru pertama baca novelnya agak bingung dengan cara unik penyajiannya ini. Tapi kalau kita baca terus dan bener-bener memperhatikan, maka dari dua cerita ini saling berkaitan satu cerita dengan yang lainnya, menjalin sebuah benang merah dan membentuk sebuah hubungan sebab akibat yang tersulam dengan begitu rapi.

Meskipun cerita ini agak ‘vulgar’, tapi yang bisa kita rasakan, penulis menuturkannya dengan begitu halus. Novel ini menyampaikan hal yang ‘tabu’ tapi dengan sangat halus dan sopan. Salah satu contohnya saja ketika Noval pertama kali berhasil merengut keperawanan Bintang, kejadian itu disampaikan secara implisit, begitu halus tanpa memunculkan kata-kata yang bernotasi ‘vulgar’.

Sang penyusup telah menemukan celah. Mahkota sang putri berhasil dicuri. Dan para setan pun bernyanyi, “Kerja kamu tuntas sudah. Dua manusia bodoh terperangkap dalam jerat kami yang ‘indah’.”

Itu salah satu contoh betapa 'indahnya' penulis menyampaikan hal yang sebenarnya cukup tabu ._. Dan masih ada lagi adegan lainnya yang berkonotasi negatif, tapi disampaikan dengan begitu halus tapi tetap tersampaikan secara jelas. Cara menulis yang begitu menarik dalam menyampaikan cerita.

Tapi sebenarnya ada satu yang gak aku suka dari novel ini. Endingnya gantung! Ceritanya gantung! Dan saya benci cerita gantung ._. ahahaha… Setiap adegan-adegan di tiap bab novel ini juga cukup banyak yang dibuat mengambang di ujungnya dan membuat kita terpaksa harus narik kesimpulan sendiri atas apa yang ada di pikiran si penulis. Sedikit nyebelin, tapi sukses bikin penasaran kita untuk segera melahap lembar-lembar berikutnya untuk menemukan pencerahan.

Cerita ‘gak biasa’ tapi sudah ‘biasa’ terjadi pada anak muda jaman sekarang. Itulah novel Hujan dan Teduh. Aku pikir, cerita ini ditulis jujur apa adanya, tapi bukan untuk mengajarkan anak muda sekarang untuk bertindak ‘menyimpang’ layaknya tokoh dalam novel ini. Satu hal positif yang mungkin coba disampaikan penulis di sini bahwa setiap tindakan kita itu ada akibatnya dan kita harus berani dan bertanggung jawab atas apa yang sudah kita lakukan. Sosok Bintang mengajarkan bahwa kita tak boleh menyerah akan tantangan hidup. Mungkin dalam perjalanan hidup kita pernah terjatuh, pernah tersesat, tapi akan selalu ada jalan bagi mereka yang mau berusaha bangkit dan mencari jalan yang benar.

Tertarik membaca novel Hujan dan Teduh?

Original post :
http://misst3ri.blogspot.com/2013/04/buku-minggu-ini-hujan-dan-teduh.html