Monday, January 24, 2011

Happy Trip ^^

What a wonderful trip… ^^
21-23 January were the great days. Tiga hari itu aku dapet voucher liburan dari Gagasmedia. Baik banget ya... Hehehe...
So, here we are... Aku sama temenku jalan-jalan ke Pangandaran bareng www.tukangjalanjalan.com.
Pengalaman jalan-jalan ke Pangandaran yang sangat berbeda. Asalnya aku pikir biasa aja, seperti pantai-pantai pada umumnya, soalnya dulu udah pernah juga ke Pangandaran. But waiiiiiiiiit, with tukang jalan-jalan, it’s such a different experience… : D
Ko beda? Soalnya trip kita ke Pangandaran kali ni beda sama trip yang dulu-dulu. Kita nggak cuma ke pantai ato nikmatin satu keindahan alam Pangandaran aja. Di trip kali ini, kita bener-bener nge-explore keindahan alam Pangandaran dan mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah dikujungi. Udah gitu, tukang jalan-jalan memang terlihat sangat well-planned, jadi semuanya berjalan lancaaaaaaar….


Pertama, kita pergi ke Batukaras buat nikmatin sunrise. Batukaras letaknya gak jauh ko dari Pangandaran, sekitar 30 menitan aja. Pantai Batukaras lebih kecil dari pantai Pangandaran, tapi di sini lebih sepi, jadi kita bisa lebih menikmati keadaan pantainya. Wuiihh, berasa pantai pribadi. Udah gitu, ada banana boatny juga kalo tertarik. Hehe…
Tapi sayangnya, waktu kita nikmatin sunrise, cuacanya lagi mendung, jadi moment sunrisenya gak begitu jelas. Ketutup awan ^^



Abiz dari Batukaras, kita istirahat dulu donk. Istirahat selesai, kita kembali bersenang-senang. Kita nikmatin indahnya Pangandaran dengan menyusuri pantai. Gak jauh ke tengah, tapi sensasi ombak yang lumayan gede mengombang-ambingkan perahu bikin adrenalin naik juga. View yang kita lihat juga bikin kita bilang ‘waaaaaaaah.’ ^^
Snorkeling time…!!! Yipi, habis menyusuri pantai, kita snorkeling. Yeee, pemandangan batu karang dan biota pantai Pangandaran bisa menyegarkan mata kita lo. Karanganya bagus-bagus, ikan-ikannya juga beragam. O ya, buat pemula seperti kita, keberadaan guide itu diperlukan.



Haus karena bersnorkeling ria? Tenang, banyak pedagang es kelapa muda di pesisir… : D
Wisata Kuliner…!!! Yuph, malemnya kita pesta seafood… Setelah lelah-lelah seharian bersenang-senang, kita men-charge energy kita dengan seafood yang beragam dan okeeeeeeeeeeee bgd. You all guys should try this… : D


Nah, ini kegiatan yang paling kita tunggu-tunggu. Body rafting ke Green Canyon…!!! It’s so much fun. Speechless d… Menikmati menyusuri sungai gren canyon dengan menghanyutkan diri terkadang meluncur. ^^ Seperti tidur di atas kasur air dengan pemandangan yang oke banget sampai kita nyampe di tujuan. Green Canyon itu sendiri.
Green Canyon itu…. Apa ya? Pokoknya indah deh. Ni fotonya…
Selain kita bisa menikmati keindahan green canyon setelah berjam-jam rafting, kita bisa loncat dari atas batu yang tingginya sekitar lima meter lo. Hati-hati jantung kita tertinggal di udara ya… ^^


O ya, dalam body rafting kita harus bener-bener ikutin instruksi pemandu ya…
Body rafting to green canyon? It’s a tiring day with so much FUN journey. ^^

Sunday, March 28, 2010

Ke Kawah Atau Menghadap Matahari

Api, beri lilin tahu
Pilihan apa yang lilin punya?
Lilin ingin pergi
Tapi takut api mati
Lilin diam di sini
Api akan tetap mati
Saat lilin habis memberi sumbu

Api, beri lilin tahu
Pilihan apa yang lilin punya?
Api, kuberi kamu tahu
Engkau ingin berpijar
Pada dia yang tak mampu memberi pijar

Api, pergilah ke kawah
Atau menghadap pada matahari
Yang tak menjadikan sumbu sebagai bahan bakar
Tak kan habis memberimu pijar
Mendapat arti saat kau tinggali

-By Dewatra Wulan-
14 Maret 2010

Saturday, January 16, 2010

Hiburan Bagi yang Lelah..

Jika kita sudah berusaha menjadi orang yang berkualitas,

mengapa pula kita harus minder dan cemburu,

pada dia yang lebih cantik/ganteng?

Pada dia yang lebih kaya dan populer?

Pada dia yang lebih pintar dan dicintai?

Bukankah kita hanya sebatas apa yg kita mampu dan kita usahakan?

Tuesday, January 12, 2010

Tak Perlu Mobil-Mobilan Super Besar



Seorang perempuan pucat dengan rambut panjang yang diikat menyerupai ekor kuda berjalan di trotoar yang berdebu di hari kelabu. Tidak, langit tidak sedang mendung tersaput awan, hanya saja hatinya sedang kesal tidak menentu karena tumpukan tugas dan rasa lelah. Dengan converse usangnya ia menaiki tangga penyebrangan jalan yang lengang karena sepertinya orang-orang lebih memilih cepat ketimbang selamat. Padahal Tuhan hanya memberikan satu nyawa pada satu tubuh. Ah, mungkin mereka lupa, atau ingat namun merasa bahwa kematian berjarak begitu jauh? Jika demikian, maka saat ini kematian sedang tersenyum, karena jika ia berlomba lari dengan cahaya sekalipun, tetap dia pemenangnya. Beberapa menit kemudian, perempuan tersebut sudah berdiri di sisi jalan yang berbeda, menunggu angkot.
Di bangku angkot yang paling ujung, bagian terjauh dari pintu, perempuan tersebut menghempaskan pantatnya seolah-olah dengan begitu ia mampu melepaskan seluruh rasa lelahnya. Sebagai seorang commuter, setiap hari ia menghabiskan tiga jam untuk duduk di atas angkutan umum dengan rute Padalarang-Setiabudi untuk menuntut ilmu, menjalani takdir lebih tepatnya. Jadi, rasa lelah bukanlah hal yang baru baginya, hal biasa, basi, tak perlu dikeluhkan. Sekilas, setelah menghempaskan pantatnya di bangku angkot, ia mengedarkan pandangannya. Hanya ada seorang bapak-bapak dengan seorang anak yang berusia tak lebih dari satu tahun di angkot tersebut. Keduanya memakai baju yang kotor dan lusuh, namun itu tidak mengganggu si perempuan karena sebagai orang yang menghabiskan masa kecilnya di sungai, kotor bukanlah masalah. Lagipula keduanya duduk di ujung berlawanan, dekat dengan supir.
Menguap pelan, si perempuan pucat membuka tasnya dan mengambil Nokia 2626nya. Kau pasti tahu bahwa dia tak bermaksud pamer, karena apalah yang bisa disombongkan dari Nokia 2626 jika orang yang duduk di sebelahmu mengeluarkan Blackberry? Kau juga pasti bisa menebak, jika ia tidak hendak mengirim pesan atau bermain game, maka kemungkinan besar ia hendak membuka FBnya dan membuang pulsa dan waktunya. Membuang waktu? Ralat, menjalani waktunya lebih tepatnya. Karena pada hakikatnya waktu itu independent dan berjalan dengan aturannya sendiri di luar tangan kita. Waktu tidak seperti uang, dipakai atau tidak dipakai ia akan tetap habis.
Ya, ternyata si perempuan pucat itu sedang membuka FBnya dan membaca status teman-temannya. Salah-satu status yang ia baca menarik perhatiannya, padahal itu hanya status biasa yang berbunyi “I Love My Life”. Senyum sinis tersungging di bibirnya saat hatinya dengan tak kalah sinisnya berkata,”Bagaimana mungkin kau tak cinta hidupmu? Kau cantik, datang dari keluarga kaya-raya yang utuh, dan dapat dengan mudah pergi ke Pataya. Apa yang mampu kau keluhkan?” ujar si perempuan pucat yang kemudian menutup FBnya. Menyandarkan kepalanya ke jendela angkot, agak terganggu dengan kucirnya.
Beberapa menit setelah si perempuan pucat menutup FBnya dan melamun, angkot yang Ia tumpangi berhenti. Memang begitulah angkot, berhenti saat ada calon penumpang potensial atau saat ada penumpang yang hendak turun. Kali ini angkot berhenti karena sang supir melihat calon penumpag potensial. Seorang ayah yang menggendong anak balitanya dan seorang ibu yang membawa mobil-mobilan super besar yang masih terbungkus plastik dan ditempeli kertas pink bergambar mainan-mainan lain yang disebut label masuk dan duduk di hadapannya. Si perempuan pucat melempar senyum sekilas sebagai sopan santun dan meneruskan lamunannya. Angkotpun kembali melaju dengan kecepatan yang akan membuat seekor siput terkagum-kagum.
Lamunan si perempuan pucat buyar saat mobil-mobilan super besar yang masih terbungkus plastik dan berlabel pink tersebut menyenggolnya ketika ketiga penumpang di hadapannya hendak turun. Label yang merupakan kertas pink bergambar mainan tersebut terlepas dari plastik mobil-mobilan dan jatuh ke lantai mobil dekat pintu. Tak diambil oleh sang ibu. Dapat dimengerti, itu hanyalah kertas yang akan dengan cepat terinjak dan menjadi sampah.
Angkot kembali melaju dengan kecepatan yang sama membuat pohon, rumah, rumput, dan objek lain yang dilewati seperti merangkak. Kini di angkot tersebut kembali menjadi tiga orang. Bapak-bapak berbaju lusuh, si perempuan pucat, dan si balita. Bapak-bapak berbaju lusuh masih berada di tempatnya, menjulurkan badannya dan dengan jari-jarinya mengambil kertas pink bergambar mainan yang terjatuh dari plastik mobil-mobilan super besar. Diberikannya kertas pink itu pada si anak balita yang tertawa senang. Senang mendapat mainan baru.
***
“Aku juga cinta hidupku.” Ujar si perempuan pucat.
***
Written by Dewatra Wulan
-November 13th 2009-