Saturday, November 15, 2014

Talkshow Bersama Pidi Baiq

Kawan, tanggal 22 November 2014 ini saya akan mengisi Talkshow dengan surayah Pidi Baiq. Ini nih info lengkapnya. See you there :)


Wulan Dewatra

Sunday, April 20, 2014

Sayap


Jemariku yang panjang, kurus, dan pucat menyentuh tirai putih panjang, kumal, dan berdebu. Mungkin sejak pertama kali terpasang, tirai tersebut tak pernah dicuci apalagi dikelantang. Dengan kasar, ku sibakan tirai kumal itu, membebaskan cahaya matahari dan debu dari dekapnya. Mataku mengerjap. Hampir setahun aku tak bercengkrama dengan cahaya.
Setelah mulai terbiasa dengan cahaya matahari, aku mencengkram teralis yang membatasiku dengan jendela. Entah sudah berapa ribu kali aku mengguncang tralis-tralis ini, berharap terbuka. Itu tak pernah terjadi.
Aku menyusuri bingkai tralis yang telah berkarat dengan gembok kecil di bagian pengunci. Aku tersenyum. Si lelaki kegelapan lupa mengunci gembok ini. Dengan antusias, aku membukanya. Sebuah balkon kecil menyambutku. Dengan gaun tidur tipis yang tertiup angin, ku jejalkan diriku ke balkon melalui jendela.
Mataku memicing, memandangi pemandangan di bawah balkon. Di sana, beberapa kendaraan dan manusia yang terlihat begitu kecil bergerak. Balkon tempatku berdiri merupakan bagian dari sebuah apartemen yang terletak di lantai dua puluh.
Suaraku sudah berada di ujung lidah saat hendak berteriak. Kuurungkan karena si lelaki kegelapan pasti mendengarku sebelum orang-orang di bawah menyadari aku berteriak. Dan ia akan mengunciku selamanya di sini. Ku putuskan ‘tuk kembali ke dalam dan mencobanya saat ia tidak ada di apartemen.
Kedua mata pucat itu memandangku dari daun jendela saat aku berbalik. Saat itu kusadari tak akan pernah ada kesempatan lain.
Dengan dua tungkai kurus yang pucat dan bergetar, aku memanjat pagar balkon yang rendah. Dengan keseimbangan luar biasa, yang dalam keadaan normal hanya dimiliki para pemain sirkus terlatih, aku, dengan gemetar di lututku, berdiri di atas pagar balkon. Mata si lelaki kegelapan membelalak, ia memanjat jendela, tetapi terlambat.
Aku telah memberikan diriku pada bumi. Di antara rambut panjangku yang berwarna coklat tembaga legam yang ikut beterbangan, ku lihat seorang lelaki berdiri mematung di bibir balkon. Bibirnya memucat.
Senyum tersungging di bibirku. Lelaki itu menyangka apartemen di lantai dua puluh, kunci, dan foto-foto ‘polos’ku dapat mengambil kebebasanku. Ia salah.
Tubuhku meluncur bebas menuju titik-titik manusia dan kendaraan yang semakin lama semakin besar. Gemuruh udara menghimpit dada dan menyesakan telingaku seiring bertambahnya kecepatan jatuhku. Saat ini, aku dan gravitasi saling merindukan.
Tiga lantai dari tanah, begitu wajah-wajah mendongak mencari tahu apa yang hendak jatuh, sesak di dadaku semakin terasa. Asma sialan itu menyambut di saat tidak tepat. Namun itu tidak lama. Begitu orang-orang berteriak, aku berhenti meluncur. Sesuatu menahanku.
Sepasang sayap tumbuh di punggungku.
***
Gelap, gelap, gelap, gelap, dan pengap. Terpejam, terjaga, siang, malam, tetap gelap dan pengap. Tidak ada terang, yang ada hanya gelap dalam berbagai intensitas. Ruangan ini tidak terbuka terhadap cahaya, tidak ramah terhadap udara.
Tubuhku terbaring di atas tempat tidur tanpa seprai maupun selimut. Tubuhku dingin, kepalaku sakit karena terlalu banyak tidur. Hampir setahun ini, sebagian besar waktuku ku habiskan untuk tidur. Tidur tidak lagi menjadi sebuah pemanjaan diri, tetapi menjadi pembunuh bosan atau pelarian. Siapa yang tidak bosan jika hal yang dikerjakan hanya makan, minum, ke kamar mandi, dan bercinta. Tidak, aku tidak bercinta, aku hanya melakukan sexual intercourse, si lelaki kegelapanlah yang bercinta.
Setelah sakit kepalaku sedikit berkurang, aku memandangi ruangan yang gelap dan pengap tanpa minat. Pandanganku tertuju pada pojok ruangan. Di sana terdapat cahaya redup dari lampu duduk yang terhalang kanvas. Di balik kanvas tersebut, seorang lelaki, si lelaki kegelapan, tengah sibuk melukis. Aku bukanlah satu-satunya makhluk hidup di ruangan ini. Tapi jika bisa, aku ingin melenyapkan saja si lelaki kegelapan bersama semua gelap yang ia bawa ke dalam hidupku.
Gontai, aku bangkit dari ranjang. Gaun tidur putih tipisku bergemelisik. Gaun tidur adalah satu-satunya jenis pakaian yang aku pakai setahun ini. Tepatnya, dua hari setelah tinggal di ruangan pengap ini. Saat itu, si lelaki kegelapan baru menyadari aku tidak punya baju ganti. Pada sore itu juga, ia kembali dengan selusin gaun tidur berbagai warna dengan bandrol harga masih tergantung. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana dia dengan wajah pucat dan mata dinginnya menyerahkan selusin gaun tidur pada kasir.
Aku kini berdiri di hadapan kanvas yang tengah dilukis si lelaki kegelapan. “Kavin, aku ingin pulang.” Ujarku datar.
Si lelaki kegelapan tetap sibuk menyapukan kuasnya. Wajah pucatnya yang terbingkai rambut hitam legam acak-acakan berfokus pada lukisannya. “Ini tempatmu pulang.” Si lelaki kegelapan bahkan tidak menatapku saat berucap.
Kurenggut dan kuhempaskan kanvas yang tengah dilukis si lelaki kegelapan ke lantai.
“INI NERAKA.” Aku berteriak sambil menginjak lukisan yang tergeletak di lantai. Di sana, ku lihat gambar diriku yang tengah duduk dengan tatapan kosong. Coretan abu-abu panjang melintang di bagian pinggir akibat ulahku.
Kemarahanku bergejolak. Mengapa ia begitu menikmati kesengsaraanku?
Lukisan itu ku injak-injak dengan histeris. Setelah bosan, aku mengambil lukisan-lukisan lain yang bertebaran di ruangan pengap ini dan meleparkannya ke arah si lelaki kegelapan sambil berteriak-teriak. Keterkurungan melumpuhkan kewarasanku.
Si lelaki kegelapan hanya duduk diam menontonku tanpa ekspresi. Ia membiarkanku merusak apa saja. Ia pun tidak menghindar saat aku menghujaninya dengan berbagai barang yang mampu ku raih. Kediamannya membuatku frustasi.
Hujanan air mata meluncur bebas di pipiku. Aku menangis tersedu sebelum akhirnya aku merasa sesak dan segukan tangisku tercekat. Si lelaki kegelapan bangkit dari duduknya dan menghampiri sebuah meja.
Dengan ventolin di tangan, ia menghampiriku. Aku menderita ashma parah.
Setelah nafasku mulai teratur, aku, dengan wajah lengket karena air mata, menatap si lelaki kegelapan. Segaris luka tergores di keningnya. Salah-satu barang yang ku lemparkan mengenainya.
Pelan, dengan penuh kebencian, aku berujar, “Aku menawarkan persahabatan dan keriangan. Mengapa kau menyambutku dengan kurungan?”
Dapat ku lihat wajah si lelaki kegelapan mengeras mendengar ucapanku, lebih dingin dari biasanya. Ia marah.
Ranjang berderit begitu ia bangkit. Dengan langkah-langkah panjang, ia berjalan menuju pintu. Aku berlari mengejarnya, mengejar setiap kesempatan untuk kebebasan. Namun, si lelaki kegelapan bergerak terlalu cepat. Pintu tertutup sebelum aku sempat meraihnya. Dari balik pintu,  ku dengar bunyi ‘klik’. Aku kembali terkunci.
***
Kanvas-kanvas rusak dan potongan-potongan foto bertebaran. Dapat ku rasakan beberapa potongan foto berada di bawah punggungku yang menekan lantai. Setelah lelah berteriak-teriak dan merusak barang-barang, aku terlalu lelah untuk duduk maupun mencapai kursi atau ranjang.
Secarik potongan foto kumainkan di antara jemari. Foto-foto itu adalah foto-fotoku yang diambil si lelaki kegelapan dari waktu ke waktu. Di sana, dapat ku lihat perubahan diriku. Tubuhku mengering, pandanganku kosong, dan bibirku tak pernah lagi tersenyum. Mungkin si lelaki kegelapan adalah jelmaan dementor. Ia hidup dari menghisap kebahagiaan. Dan aku, mulai menjadi dirinya.
Setiap  foto telah kurobek menjadi cacahan kecil. Dan bilur-bilur membekas di tangkanku setelah mengoyak setiap kanvas. Di ruangan ini tidak ada benda tajam ataupun pemercik api, jadi ku gunakan tanganku sendiri untuk mengoyaknya.
Tubuhku terguncang. Ku pejamkan mataku. Kilasan-kilasan hidup selama setahun berkelebat. Aku menawarkan persahabatan pada si lelaki kegelapan, dan dia membalasnya dengan menarikku pada gelapnya.
Si lelaki kegelapan adalah jenis manusia yang menempati meja di sudut-sudut tergelap kantin kampus saat makan siang, sendirian. Teman yang ia miliki hanyalah kertas dan kanvas. Hanya segelintir manusia yang pernah berbicara dengannya. Aku tidak pernah berbicara dengannya sampai saat ia menjadi bagian dari kelompok proyek mata kuliah kewirausahaan.
Saat-saat kelompok kami berkumpul, si lelaki kegelapan tidak pernah berbicara, kecuali saat ia tidak sependapat. Jika pendapatnya tidak mendapat persetujuan, ia akan melangkah pergi. Sikapnya yang tidak ramah, membuat anggota lain berbalik tidak ramah.
Hari itu hari yang indah, semua anggota kelompok tertawa dan bercengkrama. Tidak ada yang ingin membagi tawa dengan si lelaki kegelapan. Dan aku, memulai pembicaraan dengannya. Aku tidak suka ada yang tersisih saat semua orang tertawa. Saat ini, setelah sekian lama aku terkurung di teritorinya, aku menyadari bahwa diam adalah kenyamanan untuknya.
Pembicaraan pertama membawaku pada pembicaraan-pembicaraan berikutnya. Si lelaki kegelapan terkadang mencariku. Bahkan aku pernah melihatnya tersenyum satu kali. Senyum itu membuatnya terlihat lebih menarik dari keseluruhan laki-laki di kampusku, bahkan lebih menarik dari Samuel, pacarku.
Samuel tidak mengerti mengapa aku mau berteman dengan si lelaki kegelapan, tetapi ia tidak mempermasalahkannya. Si lelaki kegelapan tidak demikian. Terkadang aku melihat kilatan kebencian pada pandangan si lelaki kegelapan saat aku berbicara dengan Samuel. Kebencian itu terlihat lebih nyata saat aku harus meninggalkannya untuk pergi berdua dengan Samuel. Aku menawarkan persahabatan, ia menginginkan lebih.
Suatu hari, si lelaki kegelapan mengejutkanku dengan permintaannya. Ia memintaku untuk meninggalkan Samuel. Tentu saja aku tidak mengikuti keinginannya. Setelah itu, ia tidak memintaku lagi. Ia bersikap seperti biasa, berbicara dan meminta pendapatku terhadap lukisan-lukisannya.
Setahun yang lalu, untuk pertama kalinya, ia mengajakku untuk melihat lukisan di apartemennya. Setelah itu, aku tidak pernah lagi menginjakan kakiku di dunia luar.
Saat ku ingat-ingat lagi, aku merasa begitu bodoh. Seharusnya aku tahu, dari kilatan-kilatan kebencian di matanya saat melihatku dengan Samuel, ia menginginkanku untuk dirinya sendiri.
Dengan tubuh masih terguncang, kuremas carikan foto di jemariku. Lantai tampatku telentang terasa lebih dingin, tetapi keringat menetes-netes di badanku. Itu bukan keringatku. Itu keringat si lelaki kegelapan. Betapa aku membencinya saat ia memasuki tubuhku. Sebelum terkunci di apartemen pengapnya, berciuman pun aku tidak pernah.
Sebelum-sebelumnya, aku selalu memberikan perlawanan dengan gigih. Namun, menyadari itu tidak memiliki efek apapun, kini aku diam saja. Biar dia bercinta dengan sebatang pohon.
Aku bisa merasakan, dengan nafasnya yang masih terengah, si lelaki kegelapan menarik tubuhnya dan berbaring di sebelahku.
Mataku terbuka. Ku lihat si lelaki kegelapan memandangiku.
“Aku mencintaimu, Rindang.” Bisiknya.
Aku memandangnya dan tersenyum.
“Aku membencimu, Kavin.” Ujarku sebagai balasan.
Si lelaki kegelapan bangkit dan duduk. Tangannya menyusuri rambutku.
“Aku tidak peduli.” Suaranya terdengar begitu tenang. Ketenangannya menyesakanku. Tanpa pernah ku rencanakan, dengan kuku-kukuku yang tidak begitu panjang, aku mencakar dadanya. Si lelaki kegelapan berjengit, tiga goresan panjang  tergaris di dadanya.
Si lelaki kegelapan meninggalkanku ke kamar mandi untuk membersihkan luka. Sementara aku, memandangi kuku-kukuku yang beberapa di antaranya tersangkut darah dan kulit si lelaki kegelapan.
***
Lantai dingin tempatku berbaring terasa semakin hangat. Tirai-tirai putih kusam terlihat sedikit kuning, malam telah berlalu.
Aku menyambar gaun tidur putihku dan menutupi badanku dengannya. Sementara itu, ku dengar suara air bergemerecik di kamar mandi. Sepertinya si lelaki kegelapan tengah membersihkan diri.
Potongan-potongan foto menempel di kakiku saat aku berjalan menuju pintu. Ku putar kenopnya. Terkunci, tentu saja.
Banyak cara sudah kucoba untuk keluar dari sarang si lelaki kegelapan, tidak ada yang berhasil. Pintu selalu terkunci. Jendela-jendela berteralis. Aku pernah mencoba berteriak-teriak sampai serak. Tak pernah ada yang mendengar. Udara tidak pernah menyampaikan suaraku pada pendengaran. Apartemen ini apartemen berlantai dua puluh yang tidak laku. Di lantai apartemen si lelaki kegelapan, maupun beberapa lantai di bawahnya, tidak berpenghuni. Teriakanku percuma.
Air masih bergemerecik, si lelaki kegelapan masih sibuk. Salah-satu potongan foto telanjangku terinjak saat aku meninggalkan pintu menuju jendela balkon. Jikapun aku pergi, si lelaki kegelapan dapat dengan mudahnya menghancurkan hidupku.
Jemariku yang kurus, panjang, dan pucat mencengkram bagian bawah tirai yang kekuningan menahan cahaya. Telah lama sekali sejak aku berteriak-teriak dan bersentuhan dengan cahaya matahari.
***
Sepasang sayap tumbuh di punggungku, menahan jatuhku tepat beberapa lantai sebelum tanah, tepat setelah asma yang menyakitkan datang. Sepasang sayap putih itu mengepak-ngepak, indah.
Perhatianku pada sayap teralih begitu ku dengar teriakan orang-orang di bawahku. Lambat, ku lihat mereka bergerak menuju satu titik. Sebuah tubuh wanita bergaun tidur putih tergeletak di aspal. Warna merah menggenang di kepalanya, semakin lama semakin besar.
Tubuhku semakin ringan seiring bertambah besarnya genangan merah di aspal. Tepat saat genangan merah itu mengenai kaki salah-satu orang yang berkerumun, sayap menghilang dari bahuku. Dan aku, terurai menjadi butir-butir cahaya yang menyatu bersama udara.
Aku, bebas.
***
Ditulis oleh Wulan Dewatra/17 Januari 2014

Thursday, April 3, 2014

Origami









Selembar pedih dikirim malam melalui celah pintu
Aku memulasnya sewarna jingga
Kemudian kulipat hingga menyerupai perahu
Kini meluncurlah ia dan berkelana
Hingga akhirnya  kutemui
kepedihan hanyalah setitik warna di luas samudera sukacita

Selembar pedih dikirim malam melalui celah pintu
Aku memulasnya dengan merah jambu
Kemudian kulipat, lipat, lipat lagi hingga menyerupai kupu-kupu
Kini terbanglah ia dan berkelana
Hingga akhirnya kutemui
kepedihan hanyalah tambahan kepak di tengah hanami rasa

Lembar demi lembar pedih tak 'kan henti beralamatkan ruang kita
Tak melulu dikirim melalui pintu, pula melalui jendela dan lubang udara
Hingga malam hanyalah perihal memulas dan melipat
Melipat kemudian melepaskan
Maka pada saatnya bertemu
Pedih tak lebih dari titik kecil warna-warni dalam lapangnya dada manusia

Tuesday, February 11, 2014

Review Novel Semusim, dan Semusim Lagi


Pernah tidak jatuh cinta pada sebuah tulisan begitu dalam? Itulah yang saya rasakan pada novel ini. Sebenarnya, ada banyak faktor yang membuat sebuah tulisan begitu melekat pada diri seseorang. Untuk saya, cara bercerita adalah hal yang paling mendasar yang dapat membuat saya jatuh cinta pada sebuah tulisan. Memang, ada banyak kriteria ‘baku’ untuk menentukan bagus tidaknya sebuah tulisan, tetapi untuk disukai, selera pembaca pun mengambil peranan besar.

Awalnya saya tertarik membaca novel ini saat menghadiri undangan dari Yayasan Lontar. Saat itu Andina Dwifatma, penulis novel ini, memperkenalkan diri dan karyanya yang berjudul Semusim, dan Semusim Lagi. Bagi saya, judul tersebut sangat menarik, jadi saya mulai melihat reviewnya di Goodreads. Reviewnya beragam, ada yang bagus ada juga yang ngga. Wajarlah. O ya, Semusim, dan Semusim Lagi merupakan pemenang Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012. Label tersebut tentunya menjadi salah satu daya tarik yang membuat saya memutuskan membeli novel ini.

Judul                  : Semusim, dan Semusim Lagi
Penulis               : Andina Dwifatma
Penerbit             : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit        : 2013
Tebal Buku         : 232 hal.
Novel Semusim, dan Semusim Lagi dituturkan melalui sudut pandang tokoh utama. Tokoh utama ini memanggil dirinya ‘aku’ layaknya novel dengan sudut pandang orang pertama tunggal lainnya, hanya saja sampai akhir pun kita tidak akan pernah tahu siapakah nama dari ‘aku’ ini. Penulis tidak sekali pun menyebutkan nama si tokoh utama. Saya tidak mengerti tujuannya apa, tetapi ini cukup menarik. Lagipula, dengan cara demikian, kita dapat lebih merasakan dunia tokoh utama tanpa ‘gangguan’ dari pandangan tokoh lain. Jika pun ada maka pikiran dari tokoh lain tersebut disampaikan dengan cara ditampilkan melalui pemiikiran tokoh ‘aku’.
Tokoh ‘aku’ merupakan seorang perempuan remaja yang baru saja lulus SMA dan bercita-cita menjadi seorang ahli sejarah. Pada suatu hari, ia mendapat surat dari sahabat ayahnya, J.J. Henry, yang mengabarkan bahwa ayahnya sakit parah. Seumur hidup, tokoh ini belum pernah mengenal ayahnya. Selama ini tokoh ‘aku’ hanya hidup berdua dengan ibunya yang sangat dingin dan kaku. Akhirnya tokoh ‘aku’ memutuskan untuk pergi ke Kota ‘S’ untuk menemui ayahnya, tetapi karena ayahnya sakit begitu parah, mereka tidak bisa bertemu. Ia hanya bisa tinggal di rumah ayahnya di Kota ‘S’ sampai kondisi ayahnya membaik tanpa bisa menemuinya di rumah sakit. Ini yang membuat saya sedikit bingung. Sesakit apa seseorang sampai ia tidak dapat dijenguk? Mengapa J.J. Henry dapat menjenguk tapi ia tidak?
Dalam penantian untuk dapat bertemu ayahnya ini, tokoh ‘aku’ bertemu dan jatuh cinta pada Muara, putra J.J. Henry. Konflik mulai bermunculan sampai akhirnya tokoh ‘aku’ mencoba membunuh Muara dengan bantuan Sobron, seekor ikan mas koki. Itu saja mengenai ceritanya, kalau diteruskan nanti saya jadi spoiler :P

Kisah dalam novel ini diceritakan dengan cerdas. Cerdas di sini bukan berarti mengandung banyak kosakata yang sulit dimengerti, tetapi saat membacanya kita tidak merasa ‘kosong’. Kekurangannya, di sini banyak sekali keterangan kutipan yang mengganggu kenyamanan membaca. Padahal informasi kutipan tersebut bisa saja ditulis di catatan kaki.

Mengenai cara bercerita, saya sependapat dengan komentar dewan juri bahwa novel ini diceritakan dengan mencekam. Saat membaca novel ini, kita disuguhi sebuah cerita yang gelap dan cenderung dingin. Cara penceritaan tersebut mendukung karakter tokoh ‘aku’ yang memang diceritakan bersikap tertutup. Salah satu contoh peristiwa yang menunjukkan dinginnya tokoh aku adalah saat ibu si tokoh tiba-tiba berteriak-teriak seperti kerasukan, tokoh aku hanya berdiri dan menggaruk kakinya yang gatal dengan kaki yang lain. Namun di sisi lain, penulis pun tidak melupakan sisi kemanusiaan dari tokoh utama, misal dari peristiwa saat tokoh ‘aku’ memutuskan untuk tidak jadi pergi ke kota ‘S’ karena melihat ibunya dalam keadaan demikian kacau. Cara bercerita Andina Dwifatma yang dingin, tak berperasaan, tetapi tidak menghilangkan sifat alami manusia ini mengingatkan saya pada tulisan Gregory Hill, East of Denver, yang merupakan penulis favorit saya.

Sayangnya, gaya bercerita yang mencekam dan cerita yang dingin ini tidak didukung oleh cover. Cover novel ini putih dengan gambar semacam kartun seekor ikan sedang duduk di bangku taman. Cover jenis ini juga digunakan GPU untuk novel-novel ‘amore’, yang tentu saja memiliki nuansa berbeda.
Di belakang cover, disertakan sebuah puisi dari Sitor Situmorang yang memuat sepenggal kalimat “Semusim dan Semusim Lagi”. Walau demikian, novel ini tidak diceritakan dengan gaya puitis, tetapi saya bisa menemukan banyak kutipan menarik dengan penuturan beragam. Dari novel ini, saya paling suka dua kutipan berikut:
Kutipan 1
Tentu saja bertahun-tahun kemudian aku tahu itu semua bohong belaka. Tidak semua jenderal adalah pahlawan, dan tidak semua pemberontak adalah penjahat berbahaya. PSPB adalah alat penguasa untuk mendisipliknkan otak-otak muda kami sejak dini. (p.12)
Kutipan 2
“Kedua, panggil aku ayah.”
Aku membeo Joe. Ayah. Akhirnya kuucapkan juga kata itu. Sesuatu dalam dadaku mencair seperti kepingan salju yang terpapar matahari ............ Aku merasa semusim paling berat dalam hidupku telah terlewati, dan aku siap untuk musim selanjutnya. Lalu mungkin semusim, dan semusim lagi... (p.230)
Kutipan terakhir cukup merangkum pesan moral yang ingin disampaikan penulis. Saya jadi sangat menyadari satu hal:

Seluruh kebahagiaan akan kembali pada hal yang paling sederhana, yaitu keluarga dan orang-orang yang mengasihi. Tetapi terkadang hal sederhana tersebutlah yang paling sulit untuk digapai. Sehingga kita harus mensyukuri jika saat ini kita berada di tengah-tengah orang yang mencintai diri kita. Selain itu, walaupun ditulis dengan dingin, tapi buku ini berhasil membuat saya bersemangat bahwa satu musim yang berat di hidup kita pasti akan berlalu dan berganti dengan musim yang baru.

Secara keseluruhan, saya benar-benar menyukai buku ini. 4.5 dari 5 bintang untuk Semusim, dan Semusim Lagi. 

Sunday, January 19, 2014

Musim Rindu


Inilah musim yang suram
Saat bunga-bunga bermekar kelabu
Dan jalan-jalan kota tertutup kelopak-kelopak berserak

Mungkin,
Serbuk sari tak pernah menyentuh putik-putik itu,
hingga tiap kuntum jatuh tanpa pernah bersentuh

Sungguh,
Inilah musim yang sendu
Kecuali kau datang bersama senyummu
Maka setiap kuntum yang mengabu
                                     ‘Kan terbang bersama angin itu

Friday, December 27, 2013

Perempuan Pencemburu Meniti Langit

Seorang perempuan pencemburu meniti tangga menuju langit
Kata kekasihnya, langit bertuliskan nama jodoh setiap orang layaknya daftar hadir

Awan-awan berhamburan laksana tepung
Saat ia acak-acak 'tuk cari nama yang berserak

Bah! Kau pikir ia mencari nama lelaki untuk jodohnya?
Tidak,  ia tengah mencari nama jodoh kekasihnya


Wulan Dewatra/27-12-2013

Wednesday, December 18, 2013

Kumpul Penulis Pembaca 2013

Halo pecinta kata, tanggal 22 Desember 2013 ini saya akan hadir di acara Kumpul Penulis Pembaca  2013 di Kemang.  Bagi yang mau ngobrol atau ikut book signing bisa  dateng ke acara ini. Janga lupa bawa novel  Memento, Harmoni, atau Hujan dan Teduh kalo mau ikut penandatanganan buku. Ini info lebih lengkapnya.



Sampai bertemu!

Wulan Dewatra :)